
Teddy loves to walk every afternoon watching the birds flew in the air to go back for their nesting ground, he also loves to seek for some lovely butterflies that always playing in a small garden that was very close to a huge gigantic stone wall. Some mysterious huge stone wall..always in secret, seems like it was hiding something special, something beautiful, something that aren’t allow to see.
Until one day teddy’s curiosity grows bigger, he try to find a way to figure it out what is behind this wall, and how can he pass this wall to look and see for what is inside of it…
Can he ever notice what is behind it…?
Or he doesn’t even try to pass that wall..?
So go a head, and figure it out for yourself just like Teddy did …
________________________________________________________________________
Tesis data Sub Depkes Jiwa atas kecenderungan perilaku subyek :
1. Mudah marah
2. Mudah tersinggung
3. Cenderung menentang, menjengkelkan lingkungan
4. Mudah cemas, tegang, gugup dan khawatir berlebihan
5. Krisis kepercayaan diri
6. Rasa curiga berlebihan
7. Pendiam
8. Pemalu
9. Tertutup
10. Sulit dimotivasi
11. Bla..bla..bla..!!
Keseharian subyek hingga saat ini berdasarkan tesis data Sub Depkes Jiwa dinilai mengalami proses-proses pengendalian (self control) dengan catatan apabila analisis atas diri subyek dinilai tepat dan sesuai. Proses perubahan pengendalian (self control) berjalan atas dasar didapatinya kesadaran akan beberapa hal yang dinilai merugikan dalam dirinya berdasarkan pertimbangan subyek … No! No! No!..
Analisis logis mungkin dapat dengan tepat mengungkapkan kondisi kejiwaan seseorang, tapi mikrokosmos yang berputar dalam diri setiap individu merupakan suatu hal yang berada jauh dalam jangkauan akal. Analisa keilmuwan secara logis dan intuitif mungkin dapat menjadi sebuah pendekatan yang paling mendekati, dalam persentase 99% atau 80%, atau mungkin lebih rendah lagi.. sangat sulit dipercaya apabila kebenarannya mencapai 100%. Karena “human..was just only human.. “. Dan sisa 1% tetap adalah sebuah kesalahan,kekurangan, ketidakmampuan. Keyakinan yang timbul akibat faktor ‘hampir / mendekati kebenaran’ tersebut tetap sulit untuk dijadikan acuan berfikir secara matrix, karena beresiko menimbulkan kesalahan-kesalahan. Ilmu tetap akan berongga, karena selamanya ia harus dikembangkan, dan ‘benar- salah’ tak akan pernah berlaku dalam tatanan aturan manusia, kecuali ia dibawahi oleh dogma-dogma.
Tesis psikologis secara empirik bukanlah generalisasi pasti. Bukannya meragukan atau menolak pendekatan dari disiplin suatu aturan keilmuwan dalam segala hal, tetapi hanya mencoba membangun self defense mechanisme dalam diri sendiri atas kecenderungan-kecenderungan generalisir pada suatu masalah yang akhirnya memberikan suatu perspektif sempit.
Subyek bukanlah semata-mata individu dengan gambaran image yang terpantul berdasarkan analisa kejiwaan dari Sub Depkes Jiwa, walaupun beberapa hal yang digambarkan mungkin sangat mendekati atau dinilai sesuai dengan apa yang ditemui pada kecenderungan perilakunya sehari-hari (He..he..he..=>), tetapi tetap.. subyek merupakan individu utuh yang apa adanya membentuk persepsi sementara yang mungkin dapat berubah sewaktu-waktu. Membentuk kepingan yang berbeda setiap hari pada panel-panel gambaran dirinya dalam imaji individu lain.
Ada beberapa hal dalam diri subyek yang terasa menarik untuk diketahui dan sebagian besar tidak terlihat dan terungkap jelas.. tetapi terasa..sangat terasa.. seperti ada sebuah tembok besar yang melindungi sesuatu didalamnya, menjaga kerahasiaan didalamnya..teka-teki..??? Manusia serapuh sayap kupu-kupu, yang bisa saja kehilangan fungsi aerodinamik nya saat sayap tersebut dipegang… seperti Teddy yang selalu berjalan pada setapak jalan desanya dan selalu terhenti saat akan melintasi sebuah tembok batu besar itu..dan membiarkannya.. mencoba membiarkannya.. tetap menjadi rahasia…
Apakah Teddy..seperti……???
Chapter One.. ‘About Sue…’
Secangkir kopi hangat, sebungkus Marlboro menthol diantara tebaran-tebaran kertas corat-coret diatas meja kecil sebuah fast food.. adrenalin..intuisi..inspirasi..lebaran tinggal lima hari lagi..lampu jalan pada pukul 19.00 WIB… “Something about Sue’s mind… speechless..”
Chapter Two..’Teddy?’
Matahari menyengat siang ini, bunga-bunga soka berbisik, angin merangkak pelan di udara.. 2;…3;..4;…empat ekor lalat mendarat pada bibir cangkir kopi yang sudah basi sejak tiga hari yang lalu, bermain diatas bangkai biji-biji kopi yang hancur dan telah ditumbuhi spora-spora jamur. Entah sejak kapan kehidupan di dalam cangkir itu dimulai.
‘..Teddy!..Teddy!..’, Seorang wanita dalam gaun kebesarannya, daster bermotif kembang setengah berlari mencari anak satu-satunya yang saat ini dirasa hilang. Setiap ruang kamar dimasukinya, ditelaah, diamati, disimak, diteliti.. tidak ada..yang dicarinya tidak ada dimana-mana..’Kemana anak itu..?’.
Sudah sejak pagi Teddy pergi bermain bersama boneka beruang kesayangannya ke sebuah tempat favoritnya, dibawah sebuah pohon Birkin rindang beberapa meter dari rumahnya. Ia menyukai tempat tinggi tetapi tidak ada bukit di sekitar desanya, hanya ada gundukan pasir di depan rumah tetangganya. Itu pun hanya setinggi pinggang mungilnya, akhirnya tempat yang menurutnya paling menyenangkan adalah sebuah batang besar pada pohon Birkin tersebut, disana ia dapat menikmati angin dan merasakan beberapa ranting bergoyang, tidak terlalu istimewa tapi sangat menyenangkan. Teddy bukan anak yang cukup ceria, untuk anak seusia nya ia terkenal pendiam. Beberapa orang beranggapan ia mengalami gangguan mental, bahkan ada yang menyebutnya idiot. Sebenarnya tidak, ia hanya terlalu menyukai segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
“…speechless wind.. speechless wind..blew me strong through the clouds..through my dreams..till the sun won’t shine..and darkness fade in one..to another..side of my fearless soul..over..and……over…’till…I……… die…..”
Chapter Three …’ ? ‘
Sore hari, ‘..ibu!..ibu, jam berapa sekarang?..ibu?..’, Teddy bertanya tanpa menggerakkan badannya, tetap menempel disana. Jendela disudut ruang tamu itu adalah sudut kesukaannya. Semenjak kecil ia selalu melambaikan tangan kepada ayahnya yang berjalan pergi di setapak jalan desanya, pergi di awal bulan dan kembali pada akhir bulan ketiga. Oleh karena itu ia menyukai jendela itu, menunggu ayahnya kembali. Barangkali ayah bosan bekerja dan rindu keluarganya dirumah..pasti sebentar lagi ia kembali, begitu pikirnya.
‘ Sekarang sudah jam setengah lima. Ayo mandi, hari ini kamu tidak berjalan-jalan seperti biasa. Masih berteman dengan matahari kan?..’, ibunya membelai kepalanya..lembut, persis sama seperti sentuhan yang dihafalnya sejak dulu. Kali ini ia yakin bahwa ibunya masih asli, tetap orisinil seperti saat ia pertama menemuinya beberapa tahun lalu di sebuah ruangan bidan dekat rumahnya.
‘..Ayah pulang hari ini..?’
‘ Tidak, sebelum pulang ayah past….’
‘ Aku tahu.. ia selalu menelfon sebelum pulang.’
‘ Jika kamu sudah tahu, knapa ka…’
‘ Cuma mau yakin.. Ibu?’
‘ Apa? ‘
‘ Ibu tidak malu memelihara anak seperti..saya..? ‘
‘ Kamu!.. knapa harus malu? Pasti tetangga-tetangga mengganggu kamu lagi.. apa kata mereka?’
‘ Mereka bilang..bicara saya aneh, masih umur 10 tahun..suka pakai bahasa kaku.. sok tua.. pak Kosim kasihan pada saya.. katanya saya seharusnya menikmati masa kanak-kanak saya.. katanya.. saya.. bukan anak-anak….’
Ibunya menyambar handuk dan melilitkannya ke leher.
‘ Lalu kamu malu..? Perasaan kamu sendiri bagaimana..?’
‘ Curang!..Aku tanya ibu lebih dahulu, harusnya ibu jawab…bukannya malah bertanya juga…’
‘ Ok..ok! Teddy-boy.. Listen, yang terpenting untuk ibu adalah kebahagiaan kamu. Kalau mereka bilang kamu aneh, kamu gila , kamu…. Ah! Apalah! Pokoknya,.. kenapa ibu harus malu..? Kamu besar dalam didikan ibu dan ayah, walaupun kamu tidak sekolah di kota seperti anak-anak lain.. ayah dan ibu masih bisa memberi kamu pelajaran yang sama persis, bahkan lebih dari apa yang diajarkan oleh guru-guru di kota itu. Dan kenyataannya, ibu lihat kamu lebih cerdas ketimbang anak-anak itu. Mereka tidak belajar apa-apa dari sekolah mereka…. Jadi buat apa ibu malu?.. Ibu malah bangga sekali dengan kamu..!’
‘ Tapi kata ayah..kita tidak boleh meremehkan orang lain…kare…’
‘ Ibu tidak meremehkan sayang, hanya kadang ibu merasa risih dengan komentar-komentar mereka..itu saja.’
‘ ..Kalau begitu, ibu malu kan?’
‘ Tidak!’
‘ Katanya perasaan ibu terganggu..’
‘ Ibu merasa terganggu.. tapi ibu tidak malu!’
‘ Aku bingung..kat..’
‘ Teddy?!’
‘ Iya bu..?’
‘ Diam!’
Chapter four.. ‘ Evening, flowers and the sunset..’
Teddy berlari memasuki pintu depan rumahnya, peluhnya bercucuran dan wajahnya letih sekali, boneka beruang kesayangannya terayun-ayun bebas dalam genggamannya, tidak seletih Teddy; ia tetap tersenyum. Ibunya tidak dirumah sore ini, jadi terpaksa ia harus menyiapkan bekal jalan-jalan sorenya sendiri.
Matahari kelihatan lucu sore ini, dengan bodohnya mencoba bersembunyi dibalik awan, padahal setebal apapun awan itu sinarnya tetap akan berdesakan keluar dari sela-sela punggung awan tersebut. Langit pun tertawa hingga wajahnya menjadi kuning kemerahan, tampaknya sore ini matahari sedang dijadikan bahan lelucon oleh kawan-kawannya di langit. Tapi Teddy tak peduli, bagaimana pun bodohnya matahari itu ia tetap menyukainya karena ia senang berkawan dengan matahari. Teddy berjalan sambil terkadang melompat-lompat kecil, ia bernyanyi disepanjang jalur setapak yang biasa dilaluinya setiap sore. Ia selalu berjalan-jalan hingga ia tiba pada tempat yang paling disukainya, sebuah pohon Birkin besar yang berdiri kokoh disisi sebelah kanan jalan tersebut. Biasanya setelah ia sampai disana ia akan duduk bersebelahan dengan boneka beruangnya, mengeluarkan bekal dan menyantapnya. Setelah kenyang lalu ia akan memanjat pohon tersebut dan duduk pada dahan yang tidak terlalu tinggi, cukup agar ia dapat memandang langit memayungi desanya lalu kemudian ia melamun disana.
Tapi sore ini kejutan besar menghentikan langkahnya. Dahan tinggi itu hilang, sisanya hanya bekas batang besar yang terpotong dan beberapa kelompok daun-daun Birkin yang berserakan bersama ranting-ranting patahnya. Ia diam, daun-daun rontok itu membentuk jejak disepanjang jalan setapak. ‘Jika aku mengikuti jejak ini, pasti aku akan menemukan kembali pohon Birkinku…’, begitu pikirnya. Tapi ia ragu-ragu, selama ini ia belum pernah berjalan melebihi batas pohon ini biasanya berada. ‘Bagaimana jika seseorang membawa pohon Birkin itu keluar kota, mungkin aku akan tersesat..dan ibu pasti mencari-cari aku, kemudian ia akan menelfon ayah dan akhirnya mereka berdua akan mencariku, lalu… bagaimana jika mereka tidak menemukanku?’.
‘ Baiklah! Kalau begitu.. hanya ada 1 cara’, gumamnya. Lalu ia menyandarkan boneka beruangnya pada sisa batang pohon yang terpotong itu, kemudian berkata ‘ Mister Bear… aku percaya kamu tidak sebodoh ayam-ayam ibu, sejak Ayah mengenalkan kita.. kamu adalah sahabat terbaikku, jadi tolong.. saat ini aku akan mencari pohon Birkin kita. Dan jika sudah petang, lalu matahari hilang dan aku belum kembali kesini ..tolong beritahu ibu bahwa aku berada disuatu tempat disepanjang jalan ini…agar ibu tidak kesulitan mencariku..kamu mengerti?!’, beruang itu tetap tersenyum. ‘Baiklah.. apa pun yang terjadi tetap pada rencana kita!’, kemudian Teddy berlari mengikuti jejak-jejak daun Birkin disepanjang jalan setapak itu.
Chapter five ‘ the Stone wall..’
Tidak terlalu jauh dari tempat Teddy meninggalkan boneka beruangnya, jejak daun itu berakhir. Ia berhenti dan mendapati dirinya berada dibawah sebuah bangunan yang sangat besar dan tinggi. Kemudian ia berjalan mundur sambil tetap mencoba menatap ke atas bangunan itu…satu…dua…tiga…empat…lima…pada langkah ke enam ia berhenti dan menyadari kekeliruannya.
Ternyata ia tidak berdiri dibawah sebuah bangunan, itu hanyalah sebuah tembok batu yang sangat besar dan memanjang di sepanjang jalan setapak itu hingga menghilang di ujung horizon. ‘ Tempat apa ini..?’, ia kemudian mengagumi tembok besar ini. Tembok ini tersusun dari batu-batu pualam keras dalam bongkahan-bongkahan besar, dari ujung ketinggiannya menyembul ujung-ujung ranting pohon; dan ia mengenali ranting itu. ‘ Itu ranting Birkinku!’, Teddy berteriak. ‘Bagaimana ia bisa sampai disana? Ada apa dibalik tembok ini? Dari tadi aku tidak melihat pintu masuk, lalu bagaimana pohon itu bisa ada disana? Siapa yang memindahkannya?’, Teddy menyusuri tembok itu, mencari-cari pintu atau mungkin celah untuk melewati tembok ini. Tidak ada, sama sekali tidak ada celah. Bahkan lubang semut pun tidak tampak. Akhirnya ia duduk diseberang jalan menghadap tembok itu. ‘ Mungkin di dalamnya ada banyak sekali pohon Birkin, dengan batangnya yang besar-besar dan dahan –dahan tinggi yang kuat, daun rindang…..pasti menyenangkan duduk diatas dahan salah satu pohon tersebut….’. Kemudian ia menkhayalkan dirinya bermain bersama boneka beruangnya dibawah pohon-pohon itu, memanjat dahan-dahannya dan duduk menikmati pemandangan desa.
Rasa ingin tahunya semakin besar, kemudian ia mulai mencari-cari cara untuk masuk melewati tembok itu. Tapi sesaat kemudian ia berhenti, … Ia menjadi bingung, bimbang…
‘..Tall, strong stone wall… Can I know about your secret…or.. will I let it be… and stay…unknown…??’
Chapter Six ‘ See.. Sick.. Six..’
Jus tomat kehilangan kesegarannya. Bekas lelehan es yang mencair kini telah berhenti merayap, mengering diatas meja tempat monitor berpijar.
Sejak sore kemarin sms-sms banjir ke dalam inbox., lucu-lucu juga :
‘Selamat Idul Fitri bro’, sadar bulan suci neh! Jangan ngeledekin orang mulu..’.
‘ Allow kura2 he2 : ) met lebaran yah, kapan blk ke bandung? Anak2 kangen neh.bls’.
‘ Minal Aidzin wAlpha Bravo Charlie pak! Pasukan infanteri disini uda siap lebaran besok.Kpan main lagi min, gw dah ngebet niy’.
‘ Mumeen! Andan,Vta, ma Janie mo’ ngucapin “Happy Idul Fitri1425H” maafin kt ya, srg tdk btanggung jwb. Msh punya LEO?”
‘ jdwal buka nanas ktunda, lg jaga ponakan kcil umur 3bln..bapa+ibu’nya lg jalan! Help help anak ini minta dgendong teyuus..’mohon maaf lahir batin yak’.
‘ monyong! Jlek loe tau ga?dasar kumin raja kuman, sbenernya gw bwenciiii bgt ma loe.hey gokil!!Ehem2..maaf ya gw kasar,bsk kan lbaran jd minal aidzin ya meen..he2!’.
Inbox penuh… Teddy ga sms?… well, Teddy was in the middle of his own dillema right now…
…so, I wondering about his decision.. will he pass that wall??
I know there must be some way to found out, about something behind that wall..
..or maybe he just let it be a mistery, for some beauty imagination that was given by the wall… has entered his head…
…I guess..
…we both agree to let Teddy decide his own business….
..Aren’t we..?
..Sue..??….
________________________________________